‘Between’ Chapter 9

*Yul POV

Aku tidak menyangka ternyata aku yang terpilih menjadi photographer di perusahaan ini. Setelah menyelesaikan urusan administrasi, sore harinya aku langsung melakukan pekerjaanku di studio.

Sudah hampir selesai pekerjaanku hari ini, tinggal beberapa kali sesi pemotretan lagi lalu menyerahkannya lusa nanti, mengingat besok adalah hari libur tahun baru.

Ditambah Victoria noona yang menjadi modelnya berarti aku bisa sedikit santai, setelah dari toilet aku tidak langsung ke studio, aku sengaja berniat melewati ruangan Jessica. Hanya ingin sekedar melihatnya dari jauh.

Begitu hampir mendekati ruangannya terlihat seorang pria membawa setangkai bunga mawar sedang berdiri didepan ruangannya. Seketika itupun hatiku benar-benar terasa sakit dan sesak, aku tidak tahu itu apa tapi yang pasti aku benci dengan perasaan ini. Andai saja aku memiliki hak atas Jessica pasti aku sudah menghajar Pria itu habis-habisan. Tidak lama pria itu masuk keruangan Jessica dan aku melewati ruangannya

‘Jadi kau benar-benar telah menerimanya kembali sica.? Huft, aku tidak suka melihat kau bersamanya Sica.. Tapi aku juga tidak berhak melarangmu untuk tetap bersamanya’ batinku dengan rasa sakit dihatiku.

 

*Taeyeon POV

Aku tidak bisa terus seperti ini, aku tidak bisa terus mengharapkan sesuatu yang tidak pasti. Ya, aku harus segera mendapat kepastian dari Jessica. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, 30 menit lagi menuju jam pulang. Aku berniat mengajak Jessica menghabiskan waktu pergantian tahun berdua dengan nya. Dengan sangat yakin aku mendatangi ruangannya.

“Hey Jess”

“Hey. Silakan duduk, ada apa Tae.?” Tanyanya

“Ini untukmu..” kataku sambil memberinya bunga mawar diapun menerima dengan senyum “Apa kau masih sibuk.?” Tanyaku

“Masih ada beberapa pekerjaan yang harus ku selesaikan. Ada apa memangnya.?”

“Ah.. Itu.. Hmmm, sebenarnya aku ingin mengajakmu merayakan pergantian tahun denganku.. Apa kau bisa..?” Tanyaku dan berharap dia mengatakan Ya

“Hmm.. Begini Tae, kau tahukan kalau Lusa pagi aku ada presentasi dan sampai sekarang Materiku belum siap sedangkan besok sudah libur, aku khawatir materi yang akan kubawakan tidak selesai. Jadi Mianhe Tae, aku tidak bisa pergi bersamamu” katanya dengan lembut tapi terasa cukup menusuk hatiku dan membuatku semakin ragu, apakah aku bisa diterima disisinya kembali.

Aku berdiri dan berjalan ke tempat dia duduk, ku raih tangannya dan menatap matanya dalam.

“Jessica, kau tahu.. Aku sangat menyesal dengan apa yang pernah aku lakukan dengan hubungan kita dulu dan aku datang kesini.. Menyusulmu ke Korea hanya untuk bisa kembali lagi padamu. Aku sangat berharap kita bisa seperti dahulu lagi..” Aku terus memegang tangannya erat dan memastikan bahwa matanya terus membalas tatapanku “Saranghae Jessica, maukah kau kembali lagi padaku.?”

Dia tidak langsung menjawab pertanyaanku, tapi tatapannya juga tidak lepas dari mataku. Kami terus dalam posisi ini untuk beberapa waktu.

“Kau tahu kenapa aku bisa sangat membencimu..? Itu karena aku sangat mencintaimu Tae, tidak mudah melupakan cinta yang sudah melekat pada hatiku selama lebih dari 4 tahun. Sampai kau datang kembali kehadapanku, aku masih berpikir bahwa cinta ini masih ada.” Aku tersenyum dengan apa yang dia katakana, dia menarik nafas panjang lalu mulai berbicara lagi “Tapi… Tapi ternyata aku salah, aku tidak benar-benar mengharapkanmu lagi, aku hanya sedikit merindukanmu dan aku.. aku sudah terbiasa tanpa cintamu lagi” Kini dia melepas tanganku dan mengalihkan tatapannya dari mataku.

“Aku masih seperti dulu Jess, aku masih mencintaimu.. dan aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu” aku menarik tangannya lagi lalu dia tersenyum padaku

“Aku sudah berubah Tae, aku hanya akan menyakitimu jika kita bersama. Dan kamu, kamu harus bisa membuka hatimu untuk orang lain.. Tae”

“Aku.. Sepertinya itu tidak mungkin”

“Coba kau buka matamu, ada seseorang yang tanpa kau duga sudah menaruh hati untukmu, kau hanya perlu membuka sedikit pintu hatimu agar dia bisa masuk dan membuktikan bahwa cintanya layak untukmu” katanya lalu berdiri dari duduknya, dia berdiri sejajar denganku lalu berbisik ditelingaku “Kau tidak akan pernah tahu kapan cinta itu bisa datang atau pergi, tapi begitu kau bisa merasakan cinta itu datang kau harus segera menyambutnya sebelum dia pergi lalu kau menyesal” katanya lalu pergi dari hadapanku.

‘Jadi itu keputusanmu Jessica, aku benar-benar sudah tidak bisa diterima lagi di hatimu. Apa aku bisa mendapatkan seseorang yang sepertimu lagi..?’ kataku dalam hati lalu tanpa terasa ku meneteskan air mata.

Pernyataannya tadi benar-benar membuatku gila, tidak bisa berpikir jernih. Di kepalaku terus dipenuhi dengan kata-katanya tadi dan kenangan-kenangan bersamanya juga kesalahanku padanya.

Aku tidak kembali ke ruanganku, aku memutuskan untuk mencari udara segar diluar untuk menjernihkan pikiranku.

 

*Jessica POV

Aku keluar dari ruanganku menuju toilet, aku sangat tidak menyangka Taeyeon akan memintaku kembali padanya lagi.

‘Apa tadi aku terlalu kasar padanya.? Tapi aku memang tidak bisa menerimanya kembali, bukan karena aku tidak bisa memaafkannya kesalahannya. Tapi rasa ini sudah berubah, aku tidak tahu kenapa.. yang pasti aku sudah terbiasa tanpa cintanya lagi dan bukan dia yang kuharapkan mengisi hatiku lagi’

Aku mencuci tanganku lalu melihat kearah cermin, aku tidak tahu benar atau tidak tapi aku melihat bayangan Yul disana, dia tersenyum padaku dan aku membalas senyumannya tapi kemudian bayangannya hilang begitu saja, aku tersadar lalu mencoba mencari bayangan itu lagi tapi tidak berhasil.

‘Aish, itu hanya ilusi ku saja.. Tapi kenapa, kenapa Yul..?’

Setelah selesai, aku berniat menuju ruanganku lagi namun gara-gara bayangan Yul tadi, aku jadi membelokkan langkahku ke Studio. Berharap bertemu dengan Yul walau hanya sebentar saja.

Sesampainya di studio aku memang menemukan seseorang yang kucari tapi sialnya dia bersama dengan orang lain yang sudah pasti membuat hatiku sakit, tubuhku memanas dan emosiku memuncak.

‘Sepertinya Yul berhasil menjelaskan kesalahpahaman yang kemarin.. Dan jelas sekali sepertinya mereka sedang dalam hubungan khusus, Huh dasar Kwon Yul Player’ teriakku dalam hati.

Aku tidak rela melihat pemandangan ini, aku terus berpikir bagaimana caranya memisahkan mereka berdua. Terlihat Yul dan Victoria duduk berdampingan sambil melihat hasil potretnya di kamera yang Yul pegang, mereka juga terlihat mesra sekali dengan canda tawa yang membuat mereka tidak bisa berhenti tersenyum satu sama lain.

“Jessica-shi” Victoria menyapaku ketika aku sudah sampai dihadapan mereka dan Yulpun menatapku tapi kemudian langsung mengalihkan perhatiannya lagi ke kameranya.

“Apa sesi pemotretanmu sudah selesai.?” Tanyaku pada Victoria, aku ingin sekali mengusir wanita ini dari sisi Yul

“Tinggal satu kali sesi lagi” Kata Vic sedangkan Yul hanya diam sambil  memainkan kameranya dan mengacuhkanku ‘Apa Yul masih marah padaku karena kejadian kemarin’ pikirku

“Kalau begitu cepat selesaikan pekerjaanmu dan Yul aku tunggu hasilnya dimejaku hari ini juga” Kataku dan mampu membuat Yul terkejut dan menatap ke arahku

“Mwo hari ini..? Ini sudah hampir jam pulang bukan.?” Protes Yul

“Ya Jessica, Apa tidak bisa diserahkan lusa saja.. Malam ini aku mengundang Yul di acara perayaan pergantian tahun dirumahku” Tambah Victoria yang langsung membuatku terkejut

‘Mwo.. Yul akan merayakan pergantian tahun dirumahnya Victoria.. Hanya berdua saja’ telingaku terasa sakit mendengar kabar ini.

“Aku butuh hasil itu secepatnya agar aku bisa menyelesaikan materi presentasiku untuk Lusa pagi. Maka dari itu, kalian lebih baik cepat menyelesaikan pekerjaan kalian agar kalian bisa segera pulang” kataku dengan dingin, aku sebenarnya ingin sekali menggagalkan rencana mereka. Tapi kemudian aku sadar bahwa aku tidak punya hak untuk itu.

“Ne, aku akan usahakan secepatnya selesai” kata Yul dengan dingin, jujur aku tidak suka sikap Yul yang seperti ini kepadaku. ‘Apa dia masih sangat marah padaku.? Apa aku sudah sangat keterlaluan karena telah merusak acara mereka.? Mianhe Yul, aku hanya tidak suka kau dengan wanita lain’ batinku

Lalu aku kembali ke ruanganku untuk melanjutkan pekerjaanku yang memang harus selesai hari ini juga.

 

*Author POV

 

Taeny moment

 

Taeyeon melajukan mobilnya dengan cepat lalu berhenti pada sebuah Bar.. pertemuannya dengan Jessica tadi benar-benar membuatnya gila. Tapi berkali-kali juga dia berusaha untuk bisa menerima kenyataan ini tapi hasilnya nihil dia masih kecewa dengan apa yang dia dengar.

Entah sudah berapa botol alkohol yang dia minum, yang jelas itu cukup untuk membuatnya mabuk, tapi dia langsung menghentikan perbuatannya lalu pergi dari tempat itu sebelum dia benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.

3 Jam sudah dia menyendiri di Bar itu, kemudian ia meninggalkan tempat itu dengan keadaan mabuk tapi tetap memaksakan dirinya membawa mobil. Dia melajukan mobilnya bukan kearah tempat tinggalnya melainkan entah kemana tujuannya yang dia sendiri tidak tahu. Cukup lama ia memutar-mutar tanpa tujuan hingga ia memberhentikan mobilnya didepan rumah yang bukan miliknya.

Dia keluar dari mobilnya lalu menuju rumah tersebut dan mengetuk pintunya.

Tok tok tok ketuknya masih dengan keadaan mabuk dan setengah sadar

Dibuka pintu tersebut oleh sang pemiliknya yang terlihat sangat terkejut dengan kehadirannya

“Mr. Kim” sapanya namun disisi lain sepertinya kaki sang pemilik nama sudah tidak bisa lagi menopangnya berdiri, seketika itu juga Taeyeon menjatuhkan tubuhnya ke arah Tiffany.

Tanpa canggung Taeyeon mulai menangis dalam pelukan Tiffany.

“Mr. Kim.. Kau.. Apa yang kau lakukan..?” Tiffany mencoba untuk melepaskan pelukannya

“Tidak bisakah kita tetap seperti ini, sebentar saja.. Aku mohon” pintanya sedangkan Tiffany yang mengerti membiarkan Taeyeon tetap berada dipelukannya, setelah beberapa lama Tiffany merasakan baju yang ia pakai basah. ‘Apakah dia menangis’ pikir Tiffany.

Setelah merasa lebih baik, Taeyeon melepaskan pelukannya. Tiffany pun mengajaknya masuk kedalam rumahnya lalu membuatkan secangkir teh untuknya.

“Minumlah, semoga bisa sedikit menenangkanmu” Taeyeon menerima secangkir teh hangat itu lalu meminumnya sedikit demi sedikit.

“Mianhe sudah mengganggumu malam-malam begini” Taeyeon angkat bicara sambil menaruh cangkir teh tersebut keatas meja. “Aku tidak tahu harus kemana. Aku hanya mengenalmu dikota ini” lanjutnya

“Bukankah kita teman.? Jadi kau bisa datang kemari kapanpun kau mau”

Taeyeon tersenyum “Aku pikir kau tidak mau jadi temanku”

“Yah.. kapan aku pernah bilang begitu”

“Kau tidak pernah memperlakukanku layaknya seorang teman”

Tiba-tiba Tiffany ingat bahwa terakhir kali mereka bertemu ia malah memarahi Taeyeon padahal  Taeyeon sengaja datang kepadanya hanya untuk memberinya hadiah natal “Mmm.. Mianhe, terakhir kali kita bertemu aku terlalu kasar padamu”

“Gwaenchana.. Lagi pula mulai hari ini bisa kupastikan kau tidak akan memarahiku lagi”

“Maksudmu Mr. Kim.?” Tanya Tiffany penasaran

“Mulai hari ini aku tidak akan mengganggu sahabatmu lagi, jadi kau tidak alasan untuk memarahiku lagi bukan..?” Kata taeyeon dengan tersenyum sedih

“Aku.. aku tidak mengerti”

“Akhirnya apa yang ku takutkah terjadi juga. Jessica sudah benar-benar menghilangkan perasaannya padaku. Hatinya sudah tertutup untukku. Sudah tidak ada lagi kesempatanku untuk kembali lagi padanya”

“Darimana kau tahu semua itu. Mr. Kim”

“Jessica.. Aku sudah mendapat kepastian darinya bahwa aku sudah benar-benar tidak diterima lagi disisinya” Kata Taeyeon dengan sedihnya

“Jadi itu sudah menjadi keputusan Jessica.?” Tanya Tiffany dan Taeyeonpun mengangguk lemah “Kau harus bisa menerima itu Mr. Kim. Kau ingin dia bahagia kan.? Jadi biarkan dia memilih cinta nya sendiri, dan kau Mr. Kim.. Aku yakin kau pasti akan menemukan cintamu lagi meski bukan Jessica”

“Kalau begitu bantu aku menemukannya” Katanya lalu tersenyum pada Tiffany

“Kalau aku tidak mau..??” goda Tiffany

“Aku akan memecatmu..”

“Yah.. Aku tidak takut.. weeee” Tiffany menjulurkan lidahnya untuk meledek Taeyeon lalu berlali menuju dekat jendela.

“Yah.. Tunggu…” Taeyeon mencoba mengejar Tiffany tapi tiba-tiba dia terjatuh “Aw..” Dia teriak kesakitan sambil meremas kepalanya

Tiffany yang melihat Taeyeon kesakitan langsung berlari kearahnnya “Mr. Kim.. Apa kau baik-baik saja..?” Tanya Tiffany sedangkan Taeyeon masih merintih kesakitan dan memegang kepalanya erat “Aish, ini pasti karena kau kebanyakan minum” Kata Tiffany dengan khawatirnya dan menempatkan kepala Taeyeon kepangkuannya.

“Gotcha… Hahaha” teriak Taeyeon lalu tertawa dengan senangnya

“Yah, jadi kau berbohong..?? Aish” Tiffany dengan kesal menjauhkan kepala Taeyeon dari pangkuannya lalu berdiri dan berjalan meninggalkan Taeyeon lagi

“Yah.. Tunggu aku” Taeyeon mengejar Tiffany menuju balkon rumahnya kemudian duduk tepat disampingnya sambil menatap langit mala mini yang terlihat sangat cerah.

 

Disamping itu dengan Yulsic

 

Setelah sesi pemotretan selesai, Victoria meninggalkan Yul yang masih harus menyelesaikan pekerjaannya untuk diserahkan pada Jessica. Sedangkan Jessica masih terus berkutit sendirian didepan komputernya padahal hampir semua karyawannya sudah pulang karena ingin merayakan pergantian tahun.

Begitu selesai menyelesaikan pekerjaannya Yul langsung melihat jam ditangan kanannya “Aish, sudah jam 10 malam.. Pasti Sica sudah pulang.. Hhmm.. Tapi aku harus tetap ke ruangannya untuk menaruh foto-foto ini” Kata Yul sambil meninggalkan studio dan menuju ke ruangannya Jessica. Dia sangat yakin bahwa Jessica pasti sudah tidak ada diruangannya tapi sesuai dengan janjinya dia harus tetap ke ruangan Jessica untuk menaruh hasil pekerjaannya.

Ketika hampir sampai didekat ruangan Jessica, Yul begitu terkejut karena lampu di ruangannya masih menyala “Apa dia masih disana..?” pikir Yul sambil mengedarkan pandangannya pada meja kerja yang lainnya yang sudah tidak ada orangnya.

Yul sedikit mengintip ruangan Jessica, begitu dia yakin bahwa didalam sana masih ada seseorang yang terlihat serius didepan komputer, barulah dia mengetuk pintunya

Tok tok tok….

“Ya masuk..” Teriak Jessica dari dalam ruangannya.

Yul masuk dan menatap ke arah Jessica ‘Dia benar-benar Sica’ pikirnya

“Apa kau sudah menyelesaikannya..?” Tanya Jessica

“Ne.. ini” Kata Yul sambil menyerahkan hasil pekerjaannya.

“Ah.. Akhirnya.. Gomawo Yul” Kata Jessica dengan senyum

“Ne…” kata Yul dengan singkat

Jessica masih tersenyum pada Yul, ‘Dia masih sangat dingin padaku, apa dia masih marah padaku.?’ pikir Jessica, sebenarnya Jessica merasa agak bersalah karena telah menahan Yul untuk terus bekerja padahal dia sudah ada acara untuk merayakan pergantian tahun. Jessica sadar bahwa tidak seharusnya dia bertindak begitu pada Yul dan Victoria. Yul berhak bahagia sesuai dengan pilihannya.

“Oh iya, kau sudah boleh pulang. Hhmmm..Mianhe sudah merusak acaramu..” Kata Jessica tapi yang diajak bicara hanya diam dan itu membuat Jessica berpikir bahwa Yul marah padanya

“Hhmm.. Aku rasa kau masih belum terlambat kalau kau pergi sekarang. Acara puncaknya jam 12 nantikan..? Kau masih punya waktu 2 jam lagi.. Ayo..” lanjut Jessica.

“Kau mengusirku..?” Jawab Yul, ‘Bagaimana aku bisa pergi sedangkan kau masih disini sendirian’ pikir Yul.

“An… Aniyo.. Aku hanya berpikir kau pasti marah padaku karena memaksamu lembur padahal kau sudah ada acara spesial dengan Victoria” Jessica mengecilkan suaranya pada kata Victoria

“Vic pasti bisa mengerti dan kami juga bisa membuat acara kapanpun kami mau” Jawab Yul

‘Ya, aku rasa ini semua sudah jelas. Kau sudah bersamanya’ batin Jessica lalu bibirnya menunjukkan senyuman yang manis tapi berbanding terbalik dengan hatinya yang terasa sangat sakit.

“Apa pekerjaanmu masih sangat banyak.?” Tanya Yul

“Ah.. Aniyo tinggal beberapa slide lagi materi presentasiku selesai” Jessica masih terus terfokus pada komputer nya sedangkan Yul asik memainkan ponselnya “Apa tidak sebaiknya kau tidak pulang saja..?” Lanjut Jessica

“Aniyo, aku akan tetap disini sampai kau selesai” kata Yul sambil terus memainkan ponselnya

“Kau yakin, Victoria tidak akan mencarimu..?” Pertanyaan Jessica membuat Yul mengangkat kepala dan menatap Jessica

“Aku bilang, aku akan tetap disini bersamamu. Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu sendirian disini sedangkan tidak ada orang lain lagi selain kita dikantor ini”

Perkataan Yul membuatku tersenyum dalam hati, dia masih perhatian padaku.. ‘Aish Jessica, apa yang kau pikirkan.. Bagaimana bisa kau mengharapkan perhatian dari seseorang yang sudah memiliki kekasih’

 

Jessica terus melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Yul asik bermain game di ponselnya. Yul juga sengaja menyetel lagu I Got A Boy – SNSD dengan volume yang cukup keras untuk mengusir kesunyian diantara mereka. Tapi ternyata lagu itupun bisa membawa semangat untuk Jessica menyelesaikan pekerjaannya.

 

Tepat pukul 11.15, pekerjaan Jessicapun selesai. Diapun langsung mematikan komputernya lalu meninggalkan ruangannya. Tanpa dia duga ternyata Yul terus mengikutinya sampai di parkiran.

“Dimana kau memarkir mobilmu” Tanya Jessica karena sepenglihatan dia tidak ada mobil lain yang terparkir di tempat itu

“Aish, kau meledekku..? Kau lupa, aku sudah diusir dari rumah jadi aku sudah tidak bisa menikmati semua fasilitas serta uang dari keluargaku”

Begitu mendengar perkataan Yul, Jessica menundukkan kepalanya dengan sangat menyesal karena dia tahu Yul jadi begini karena dia “Mianhe” lirih Jessica

“Sudahlah.. lupakan saja.. Berikan kunci mobilmu” perintah Yul, Jessica langsung mengangkat kepalanya kembali mengarah pada Yul tanpa berkata apapun.

“Aish, cepat berikan kunci mobilmu. Aku tidak akan membiarkanmu menyetir sendirian dalam keadaan kelelahan seperti ini”

Jessica memberikan kunci mobilnya lalu duduk dikursi penumpang disebelah Yul yang menyetir mobilnya.

Karena malam ini adalah malam tahun baru, jadi tidak heran lalu lintas menjadi sangat ramai dan padat. Biasanya perjalanan kantor menuju apartmentnya Jessica hanya memakan waktu 15 menit, kini sudah lebih dari 30 menit mereka masih dalam perjalanan.

Sepanjang perjalanan Jessica terus menatap kearah jendela dan menyaksikan beberapa kembang api yang sudah menyala padahal waktu pergantian tahun masih beberapa menit lagi.

“Cantik” kata Yul pelan saat melihat Jessica sedang memandangi kembang api

“Ne.. sangat cantik” Jessica berpikir bahwa yang dikatakan Yul adalah mengenai kembang apinya

“Kau menyukai kembang api..?” Jessica mengangguk dan tersenyum pada Yul.

“Kalau begitu, kau ikut aku. Aku akan menunjukkan tempat paling indah melihat kembang api” Lanjut Yul yang mampu membuat Jessica penasaran.

Yul memutar balik kendaraannya dan dengan kecepatan yang agak cepat dia melajukan mobilnya ke sebuah bukit yang tidak jauh dari tempat dia berada sebelumnya. Begitu mereka tiba, Yul langsung menarik tangan Jessica ke tempat yang dia janjikan tadi.

“It’s amazing Yul..” Kata Jessica dengan senyum.. dari tempat setinggi ini mereka bisa melihat perayaan kembang api dengan sangat indanya.

“Ayo duduk” Yul menarik lengan Jessica untuk bisa duduk disampingnya diatas rerumputan “Waktu pergantian tahunnya tinggal 10 menit lagi.. Dengan begitu kita bisa melihat pesta kembang api dari sini” Kata Yul.

“Aku tidak tahu, ada tempat seperti ini diseoul” kata Jessica yang masih terpesona dengan pemandangan kerlap kerlip lampu kota yang dia lihat dari posisi seperti ini.

“Ini tempat rahasiaku”

Jessica terkejut dan menoleh pada Yul ‘ini tempat rahasianya.. lalu kenapa diajak aku kemari.?’ Pikirnya

“Jadi kau tidak boleh bilang ke siapapun tentang tempat ini.. Oke..?” pinta Yul

“Ne” jawab Jessica dengan serius

“Hahaha.. aku bercanda, ini tempat umum. Kau bisa ajak siapapun yang kau mau ketempat ini. Tempat ini hanya menjadi tempat menyendiriku yang baru karena sekarang sungai han sudah terlalu ramai disana”

Jessica tersenyum pada Yul, dia senang karena Yul sudah tidak bersikap dingin lagi kepadanya “Yul, mianhe atas perbuatanku selama ini kepadamu, juga perbuatanku ke Vic kemarin”

“Maafmu selalu diterima” Balas Yul dengan senyum, sebenarnya alasan dia bersikap dingin pada Jessica karena dia kesal dengan Taeyeon tapi dia sadar tidak seharusnya dia membalasnya pada Jessica.

“Lihat.. disana pesta kembang apinya sudah dimulai” Teriak Jessica antusias

Yul langsung melihat jam ditangannya lalu berbisik pada Jessica yang masih terpesona dengan pesta kembang api yang dia lihat “Happy New Year Sica”

Jessica mengalihkan pandangannya pada Yul “Happy New Year Yul” katanya lalu tersenyum pada Yul

Yul membalas senyumannya lalu mendekatkan duduknya dengan Jessica yang kemudian dilanjutkan dengan meraih pinggang Jessica dengan tangan kanannya. Jessica yang merasa nyaman dengan perlakuan Yul juga memendamkan kepalanya pada bahu Yul. Mereka terus dalam posisi ini sambil memandang indahnya pesta kembang api dari atas bukit.

 

Back to Taeny

 

Taeyeon dan Tiffany hanya memandang langit malam itu dalam diam.. Hingga akhirnya Tiffany membuka pembicaraan.

“Mr. Kim.. Gamsahamnida atas hadiah natalnya.. Mianhe aku tidak sempat membalasnya. Aku malah memarahimu waktu itu”

“Aish, tidak bisakah kau berhenti bersikap formal padaku.? Cukup panggil Taeyeon atau Tae atau apalah yang kau mau. Asal jangan memanggilku dengan Mr.Kim lagi mengerti”

Tiffany tersenyum dengan apa yang dia dengar “Hahaha.. Mianhe, Jadi apa itu artinya kau memaafkan aku.. Taetae..?”

“Kau panggil aku apa..??”

“Taetae” Tiffany mengulangnya

“Apa tidak ada panggilan yang lebih bagus lagi untukku.?”

“Aish, kau bilang aku bisa memanggilmu sesukaku.. Kau harus konsisten dengan perkataanmu.. Taetae” Tiffany diam sejenak lalu mencoba untuk menggoda Taeyeon dengan mengulang kata ‘Taetae’

Sedangkan Taeyeon terlihat sengaja membalas Tiffany dengan berpura-pura kesal dan marah padanya

“Yah.. Apa kau marah padaku..?” Tanya Tiffany sedangkan Taeyeon hanya diam

“Baiklah.. aku hanya akan memanggilmu Taeyeon” Lanjut Tiffany

Taeyeon tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah Tiffany “Hahaha.. Kau mudah sekali ditipu.. Hahahaha”

Tiffany cemberut begitu mengetahui bahwa dirinya dikerjai oleh Taeyeon lalu memalingkan mukanya pada Taeyeon sambil melipat kedua tangannya didadanya.

“Kau terlihat lucu saat ngambek seperti itu” Taeyeon tersenyum melihat Tiffany “Aku suka kau panggil aku Taetae” lanjut taeyeon

Tiffany ikut tersenyum lalu menyadari bahwa apa yang dia tunggu-tunggu akhinya datang juga “Ini sudah saatnya.. lihat kembang api itu..” Teriak Tiffany “Happy New Year Taetae” lanjutnya

“Ne.. Happy New Year Fany” Balas Taeyeon, lalu Tiffany menoleh ke arah Taeyeon saat dia memanggil namanya dengan panggilan Fany.

“Sekarang saatnya buat harapan di tahun baru ini” kata Tiffany lalu memejamkan kedua matanya, hal tersebut ternyata diikuti oleh Taeyeon.

‘Semoga ditahun yang baru ini, aku bisa membuka lembaran baru dikehidupanku dengan melupakan cinta lama dan mencari cinta baru’ ucap Taeyeon dalam hati

 

TBC…

Baru selesai liburan langsung buka lepi ternyata udah ada MV IGAB…

Sica so gorgeous as always dan Yul Omo.. so sexy & cool

Btw gomawo sudah koment, mianhe gak bisa bales soalnya lagi gak pegang lepi. Di HP cuma bisa baca doang….

Tapi koment kalian jadi bikin semangat buat update.. Hehehehe Gomawo…

‘Between’ Chapter 8

*Yuri POV

Apa yang telah aku katakan tadi.? Hahaha, yasudahlah yang terpenting sekarang aku sudah bisa membebaskan Jessica dari perjodohan ini. Dan aku bisa mulai menikmati kehidupanku yang baru, aku akan memulainya dari awal dan aku yakin aku bisa bertahan tanpa bantuan dari orang tuaku.

Tapi sekarang aku harus tinggal dimana.? Hmm.. Aha, aku tahu harus pergi kemana. Sooyoung, dia pasti bisa membantuku.

Setibanya di rumah Sooyoung

“Yul, kemana saja kau baru mengunjungiku sekarang.?” Sambut Sooyoung

“Kau yang kemana saja, betah sekali kau di Jepang. Dan sekarang baru kembali ke Seoul”

“Hahaha, mian. Tapi urusanku sudah selesai kok disana, jadi aku putuskan untuk menetap di Seoul lagi”

“Baguslah kalau begitu, ngomong-ngomong kau tidak mengajakku masuk.?”

“Ah iya, aku lupa. Ayo masuk.”

“Mana istrimu..?” tanyaku

“Dia sedang tidur, semenjak dia hamil, dia sering sekali kelelahan”

“Hamil..?”

“Iya, dia hamil sudah 4 bulan”

“Wow… Chukkae Soo.. akhirnya..” aku memeluknya erat

“Gomawo Yul, jadi bagaimana kabarmu sekarang.? Kapan kau akan menikah huh..?”

“Kalau sudah saatnya juga aku pasti menikah”

“Kau ini, jangan terus mempermainkan wanita. Tidak baik itu”

“Hahaha.. Soo, kau seperti appaku saja” kini aku memberanikan diri untuk mengatakan maksud tujuanku datang kerumahnya “Oh iya Soo, apa Apartmentmu yang lama sudah kau jual.?”

“Aku rasa aku tidak jadi menjualnya” jawabnya

“Kenapa.?”

“Aku tidak tega menjual apartment itu terlalu banyak kenangan”

“Oh.. jadi apartment itu tidak jadi kau jual ya.. Hmm.. Soo, kalau begitu apa kau mau menyewakannya padaku..??” tanyaku berharap dia setuju

“Ada apa denganmu Yul..? Apa kau sudah bosan tinggal di rumahmu yang mewah itu huh.?”

“Aku.. aku sedang ada masalah dengan orang tuaku.. Dan sekarang aku butuh tempat tinggal, jadi kau maukan menyewakan apartmentmu padaku..?”

“Biar kutebak, kau diusir dari rumah. Dan Appamu melarang kau memakai semua fasilitas dan harta darinya..??” aku mengangguk atas apa yang dia katakan “Jadi, seorang Kwon Yul sekarang jatuh miskin..?”

“Yah, jadi kau akan menyewakan apartment mu itu atau tidak.?” Tanyaku to the point

“Hahaha, santai Yul.. untukmu kau tidak perlu menyewa, kau bisa tinggal disana selama yang kau inginkan”

“Sungguh soo..?? Gomawo Soo, kau memang sahabat terbaikku. Dan kau jangan khawatir karena aku pasti akan membayar sewanya setelah aku mendapat pekerjaan oke..!”

“Hahaha.. Santai saja Yul”

*******

*Taeyeon POV

Sehari setelah natal, kegiatan perkantoran berjalan seperti biasanya. Dan hari ini adalah kesempatanku untuk makan malam dengan Jessica dan memberinya hadiah yang sudah ku siapkan, dan tanpa ku duga dia menerima undangan makan malamku. Jadi begitu jam kerja selesai, kami langsung menuju ke sebuah restoran yang sudah ku pesan sebelumnya.

“Steak di restoran ini sangat enak. Kau harus mencicipinya Jess, ini.. buka mulutmu” Dia membuka mulutnya dan akupun mengarahkan garpu yang berisi steak ke mulutnya.

“Bagaimana enak kan..?” Tanyaku

“Ne.” Jawabnya singkat, aku berpikir Jessica yang kali ini ada dihadapanku berbeda dengan Jessica yang ku kenal 5 tahun yang lalu.

“Apa kau sedang ada masalah..?”

“Huh..? Oh, Aniyo.. aku hanya sedikit tidak enak badan” sanggahnya tapi aku yakin diberbohong

“Apa.. apa kau sedang ada masalah dengan kekasihmu itu..?” Tanyaku penasaran

“Kekasih..? Hmm… Aku tidak punya kekasih” katanya lalu wajahnya langsung berubah menjadi agak sedih dan muram

“Kwon Yul..??” Kataku masih berharap dia mau menceritakan masalahnya

“Kita bisa kan tidak membahas tentangnya lagi..?” Katanya dengan senyum, aku semakin percaya bahwa ada sesuatu yang telah terjadi antara mereka, apa mereka hubungan mereka sudah berakhir..? Aku akan sangat bahagia bila hal itu terjadi, tapi apa mereka putus karena aku.? Itu berarti Jessica sedih seperti ini juga karena aku.

“Hmm.. Jess, Marry Christmas” Kataku dengan senyum

“Yah, kau sudah mengatakannya tadi pagi..”

“Ya, tapi aku belum memberimu ini.” Kataku dengan menyerahkan hadiah yang terbalut dengan kertas kado dan pita berwarna pink.

“Gomawo Tae, mian aku tidak membawa kado natal untukmu”

“Aku sudah menyiapkan kado ini untukmu, semoga kau suka ya” Dia membolak-balik kado itu lalu menaruh di meja

“Hmm, Tae. Aku rasa aku tidak bisa berlama-lama, aku agak tidak enak badan. Aku pulang duluan ya” katanya lalu mengambil tasnya dan menaruh kadonya di dalamnya.

“Aku antarkan ya.?” Ajakku dia hanya tersenyum padaku

“Tapi aku bawa kendaraan sendiri. Gomawo Tae atas makan malam dan kado natalnya”

Katanya lalu meninggalkanku sendiri yang masih menatapnya pergi hingga ia tidak terlihat lagi dari pandanganku.

Makan malam yang singkat tidak seperti yang dulu pikirku, tapi aku rasa bukankah ini awal yang baik

Untuk usahaku. Aku meninggalkan restoran tersebut lalu menuju tempat parkir, aku terus berjalan hingga tiba-tiba aku berhenti pada sebuah toko alat musik dan disana dipajang sebuah flut, aku langsung teringat pada Tiffany, dia bilang dulu dia pernah memainkan flut.Dan aku juga teringat bahwa aku belum memberinya kado natal, padahal dia yang membantuku mencarikan kado natal untuk Jessica.

‘Kenapa tidak aku memberinya Flut sebagai kado natal dariku.?’ Pikirku

Tanpa berpikir lagi aku langsung membeli flut tersebut dan membungkusnya dengan kertas kado lalu membawanya ke rumah Tiffany.

Sesampainya di rumah Tiffany

“Mr. Kim, ada apa kau ke rumahku.?” Tanya

“Beginikah caranyamu menyambut tamu.. huh..?”

“Ah, mian. Ayo masuk” Ajaknya

“Apa kau sendirian dirumah ini..?” Tanyaku sambil melihat sekeliling rumahnya

“Daddy, baru saja pergi lagi ke L.A”

“Dia bekerja disana.?” Tanyaku dan dia mengangguk

“Oh iya, Bagaimana kencanmu dengan Jessica.? Berhasil..?”

“Kami hanya makan malam lalu memberinya kado natal.. hanya begitu saja. Sepertinya dia sedang dalam masalah, apa kau tahu ada apa dengan dirinya..?” Tanyaku penasaran

“Dia putus dengan Yul”

“Benarkah..?” Dia mengangguk “Berarti ini kesempatanku untuk mendapatkannya lagi, benarkan.?” Kataku lagi

“Ya, dan karenamu dia sekarang seperti ini”

“Maksudmu..?”

“Karena ulahmu pada Jessica, sekarang Jessica dan kekasihnya putus. Dan kau lihat keadaannya sekarang, apa dia terlihat sedang bahagia..? Tidak kan, dia sekarang sedih dan ini semua karenamu.” Kata-katanya cukup membuatku terdiam, apa benar Jessica lebih mencintai pria itu dari pada aku.? Apa benar karena aku dia menjadi sangat sedih seperti sekarang ini.? Pikirku

“Kau bilang, kau mencintainya.? Tapi aku rasa kau tidak benar-benar mencintainya, kau hanya menginginkan Jessica kembali padamu, kau egois. Kalau kau benar mencintainya, seharusnya kau bisa membuatnya bahagia meskipun tidak bersamamu, bukan seperti ini, kau membuatnya kehilangan kebahagiannya.” Dia terus berkata menyalahkanku, seolah-olah akulah penyebab dari semua masalahnya

“Cukup.. Tiff” Kataku sambil menutup telingaku “Aku tidak mau mendengar kau menyalahkanku lagi”

“Kenapa..? Jadi sekarang kau sudah sadar dengan kesalahanmu itu.. huh..?”

“Cukup Tiff, maksudku datang kerumahmu bukan untuk bertengkar dengan mu” Kataku lalu berdiri dari tempat dudukku “Aku kesini hanya untuk ini” Aku memberinya sebuah kado “Marry Christmas” kataku dan dia menerima kado yang kuberikan “Aku pikir lebih baik aku pulang saja”Aku langsung melangkahkan kaki untuk pulang

*Tiffany POV

Dia memberiku kado natal..? lalu dia pergi, bahkan aku belum sempat mengucapkan terima kasih. Maaf Mr. Kim.. aku hanya terbawa emosi, karena bagaimanapun Jessica adalah sahabatku, aku tidak bisa melihatnya terluka terlebih lagi karenamu.

Aku membuka kado yang dia berikan, sebuah flut.. Flut yang mengingatkanku pada Ibuku yang sudah tiada, apa aku bisa memainkannya lagi.. Kenapa kau memberiku Flut ini.?

*****

*Yul POV

Kini hari-hariku hanya diisi dengan berjalan-jalan keliling Seoul dengan menggunakan motor milik sahabatku Sooyoung, lalu memotret beberapa pemandangan yang menurutku menarik. Memotret memang adalah hobiku sejak sekolah dan akupun terus mengembangkan hobiku ini dengan mengikuti beberapa training, Kursus bahkan perlombaan. Tapi Appaku tidak pernah mengijinkanku menjadi seorang photographer professional dia memaksaku untuk meneruskan bisnisnya. Dan karena aku anak tunggal jadi mau tidak mau aku harus mengikuti perintahnya.

Dan kali ini aku sedang makan disebuah kedai di pinggir jalan, aku tidak masalah harus makan ditempat ini, yang penting aku kenyang. Pikirku.

“Yul…” Panggil seseorang dari samping ketika aku sedang menikmati ramenku

“Hey Tiff..”

“Sedang apa kau disini..?” tanyanya

“Kau tidak lihat aku sedang makan.?” Aku melanjutkan makanku

“Jadi benar apa yang dikatakan Jessica.”

“Apa yang dia katakan.?” Tanyaku dengan cuek

“Semuanya.. Jadi apa kegiatanmu sekarang setelah menjadi pengangguran.? Hahaha” Guraunya

“Yah, kau meledekku..?”

“Bercanda.. Tapi kalau dengan keadaanmu seperti ini, apa para wanita masih mau denganmu.?”

“Kau meragukan pesonaku..? Hahaha, kau tahu walaupun tanpa harta aku masih bisa mendapatkan wanita-wanita yang kuinginkan”

“Hahaha.. Percaya diri sekali kau,  Ah.. Kau bilang kau sudah berhenti jadi Player” Tanyanya membuatku terdiam bukan karena aku tidak tahu harus menjawab apa, tapi pertanyaannya membuatku teringat pada Jessica

“Aku bisa berhenti jika aku bersama sahabatmu itu, tapi ternyata dia memilih orang lain jadi aku harus merelakannya dan sudah saatnya aku menjadi Yul yang dulu lagi bukan.?” jawabku

“Kau menyerah.? Kau bilang kau mencintainya.?”

“Ya, aku memang mencintainya bahkan sampai sekarang, aku bahagia bila bisa bersamanya tapi aku lebih bahagia jika dia juga bahagia dengan pilihannya”

“Aku senang kau sudah berubah Yul” katanya dan aku hanya bisa tersenyum

“Oh iya Yul, bukankah sekarang kau sedang menganggur. Kenapa kau tidak mencoba menjadi photographer diperusahanku saja.?” Katanya sambil melihat kameraku didekatku

“Mwo..? Aku bukan seorang photographer professional, aku memotret hanya sebagai hobi”

“Tapi hasil potretanmu selalu bagus, kau juga sering memenangi perlombaan, jadi kenapa tidak kau coba melamar pekerjaan itu, kami sedang membutuhkan posisi itu karena photographer sebelumnya tiba-tiba kecelakan dan tidak bisa memotret untuk beberapa bulan”

“Tapi.. aku…”

Drrrt drrrt drrrt tiba-tiba ponselku berbunyi

“Yoboseyo?”

“Yul, kau sedang dimana.?” Tanya Sooyoung

“Aku sedang makan di dekat taman.. Kenapa.?”

“Apa kau bisa pergi ke Mall sekarang dan menjemput istriku.. dia kelelahan, tidak mungkin menyetir mobil sendiri sedangkan aku masih belum selesai meeting.. Tolong aku Yul, please”

“Ne, aku akan segera kesana”

“Mian Tiff, aku harus segera pergi”

“Ne, Yul.. Pokoknya kutunggu kau besok dikantorku pukul 9 pagi ya, jangan telat”

“Tapi Aku…”

“Tidak ada tapi-tapian, kau harus menolongku. Jika aku tidak segera mendapatkan photographer yang baru, aku bisa dipecat. Kau mengerti”

“Huft, baiklah kalau begitu.. Aku pergi dulu ya..!”

Menjadi seorang photographer professional memang sudah menjadi impianku sejak dulu, tapi apa aku bisa bekerja pada sebuah perusahaan dimana disana juga ada Jessica dan pria itu. Tapi kalau aku menolak pekerjaan ini, darimana aku bisa mendapatkan uang. Baiklah akan kupikirkan lagi nanti.

Aku pergi ke Mall untuk menjemput Sunny istri dari Sooyoung, aku sengaja tidak pergi dengan mengendarai motor karena nantinya aku akan membawa mobilnya Sunny, jadi aku titipkan saja motorku pada pemilik kedai yang tadi aku makan.

*Jessica POV

Disaat seperti ini, dimana aku sedang banyak pikiran dan stress aku biasanya merefresh pikiranku dengan berbelanja dan biasanya juga aku berbelanja dengan ditemani Tiffany tapi dia bilang dia sedang ada sedikit urusan jadi nanti dia akan menyusulku ke Mall.

Sudah lebih dari 3 jam aku mengelilingi toko di Mall ini, tapi Tiffany belum juga datang. Padahal kantong belanjaanku sudah penuh ditanganku. Tapi aku tetap berharap ia datang kesini, karena sebenarnya aku sangat ingin sharing dengannya.

Aku telepon saja dia..

“Tiff, kau dimana.?” Tanyaku

“On the way sayang, tunggu ya..”

“Baiklah, cepat ya”

Kataku lalu menaruh ponselku kedalam tas, setelah lelah berjalan aku putuskan untuk duduk sambil menunggu Tiffany. Terlihat tidak jauh dari pandanganku seorang wanita yang terlihat sedang hamil dengan beberapa kantong belanjaan ditangannya.

‘Kemana suaminya.? tega sekali membiarkan istrinya kesusahan seperti itu. Kalau aku menikah nanti, tidak akan kubiarkan suamiku jauh-jauh dariku apalagi disaatku hamil nanti’ pikirku dalam hati.

Tidak lama kemudian kulihat sosok pria yang sepertinya kukenal sedang membantunya membawa barang belanjaannya lalu menggandengnya pergi, kulitnya yang agak gelap dan tingginya.. Mungkinkah itu Kwon Yul..? Kulihat terus pria itu dan semakin kulihat semakin aku yakin bahwa pria itu adalah Kwon Yul.

‘Jadi, alasan itu memang benar.? Dia benar-benar telah melakukan itu..? Bodohnya aku, kenapa juga harus berpikir bahwa dia telah berubah, aku benar-benar menyesal pernah menangis untukmu Kwon Yul’ kataku dalam hati

****

*Yul POV

Setelah kupikir-pikir tawaran Tiffany boleh juga, kenapa tidak aku mengambil pekerjaan itu. Disamping itu berarti aku bisa mewujudkan impianku dulu, sekarang ini juga memang aku sedang butuh uang untuk menunjang hidupku. Jadi sekarang aku putuskan untuk mendatangi Tiffany ke kantornya, tempat yang dulu aku pikir tidak akan mendatanginya lagi karena hubunganku dengan Jessica sudah selesai tapi sekarang aku kembali lagi dengan urusan yang lain dan aku sudah menyiapkan diriku jika nanti aku harus bertemu Jessica dengan Pria itu.

“Tiffany” panggilku ketika sudah ada dibelakang meja kerjanya

“Yul, kau benar-benar datang?”

“Kenapa..? apa pekerjaan itu sudah terisi.?”

“Tentu saja belum, kami semua sedang menunggumu. Kau bisa langsung ke studio, ayo biar ku antar” Ajak Tiffany

“Ke studio.? Aku langsung memotret.?”

“Yes, sudah ada beberapa peserta disana dan sekarang mereka sedang memotret brand ambassador kami, dan kamu bisa langsung bergabung dengan mereka” Jelasnya sambil mengantarku ke Studio

Didalam studio sudah ada 2 orang photographer yang sedang memotret seorang model yang sepertinya tak asing bagiku. Sambil menunggu giliranku untuk memotret, aku mengeluarkan kamera dari tasku. Hingga giliranku datang, aku langsung mendekati model tersebut untuk memotretnya. Aku dekati model tersebut sampai aku yakin bahwa wanita itu adalah seseorang yang kukenal.

“Victoria Noona..” panggilku agak ragu-ragu

“Yul.. Kwon Yul” panggilnya, aku rasa dia kaget dengan kehadiranku. “Apa yang kau lakukan disini.?” Tanyanya

“Kau tidak lihat, aku sedang membawa kamera. Tentu saja untuk memotret”

“Kau diijinkan menjadi Photographer.? Lalu siapa yang mengurus hotel appamu.?”

“Sudahlah noona, ceritanya panjang. Bagaimana kalau aku memotretmu dulu”

“Tunggulah sebentar lagi pula Managernya belum ada kan. Dan satu hal lagi, aku sangat merindukanmu Yul” Katanya lalu memelukku.

“Aku juga sangat merindukanmu. Kau jahat noona, 5 tahun kau pergi ke China sampai tidak ingat korea” kataku membalas pelukannya. Victoria adalah seseorang yang sangat dekat denganku sejak duduk dibangku sekolah, banyak yang mengira dulu bahwa kami adalah sepasang kekasih tapi nyatanya kami berdua hanya menganggap diri kami layaknya dongsaeng dan noona.

*Jessica POV

Hari ini ada seleksi untuk photographer baru, sebenarnya aku sangat malas untuk mengurus hal seperti ini. Tapi Tiffany terus memaksaku untuk menentukan siapa yang paling cocok menjadi pengganti photographer kami yang sedang sakit. Karena hal ini begitu urgent jadi aku harus turun langsung ke studio. 2 orang photographer sudah melakukan pekerjaannya jadi aku tinggal menunggu hasilnya diserahkan padaku untukku pilih nantinya, aku putuskan kembali ke ruanganku untuk sedikit beristirahat. Tapi belum lama aku duduk, Tiffany masuk ke ruanganku dan memberitahukan bahwa masih ada satu peserta lagi. Jadi mau tidak mau aku harus kembali ke studio lagi.

Begitu sampai di studio, aku langsung disambut dengan pemandangan yang mengejutkan. Victoria Song Brand Ambassador kami sedang berpelukkan dengan seseorang yang sepertinya ku kenal.

“Jessica-shi” Panggilnya lalu melepaskan pelukannya, pria itupun membalikan tubuhnya. Dan seketika itupun, lagi-lagi aku dibuat terkejut begitu mengetahui siapa pria itu. Kwon Yul… Aish, mengapa hatiku terasa sangat sakit sekali melihat semua ini. Rasanya seperti saat aku melihat Taeyeon berselingkuh dihadapanku, kenapa..? kenapa aku harus merasakan rasa sakit ini lagi, padahal aku tidak benar-benar tahu dengan perasaanku yang sebenarnya pada Yul.

“Sica” Panggil Yul

“Apa kau peserta selanjutnya untuk menjadi photographer kami.?” Tanyaku dan diapun mengangguk

“Baiklah, Aku tidak punya banyak waktu, cepat kau lakukan pekerjaanmu lalu serahkan hasilnya padaku” kataku dengan dingin.

Merekapun melakukan apa yang kuperintah, aku mengamati cara Yul memotret Victoria dan hal ini ternyata mengingatkanku pada saat dia memotretku di sebuah taman beberapa waktu yang lalu saat kami masih bersama. Aku sempat berpikir ‘andai saat ini aku yang berada di posisi Victoria’ tapi pikiran itu buru-buru langsung kubuang.. ‘Aish, apa yang telah kupikirkan’ kataku dalam hati.

Setelah beberapa kali Yul memotret Victoria dengan beberapa gaya dan posisi, mereka menyudahi pekerjaan mereka. Dan akupun menghela nafas panjangku, akhirnya yang ku tunggu-tunggu selesai juga. Aku tidak tahu bagaimana aku nanti, jika berlama-lama melihat mereka berdua.

Aku kembali ke ruanganku lalu beristirahat di kursiku, aku juga menyempatkan untuk memejamkan mataku sebentar tapi akhirnya aku tertidur tidak tahu berapa lama hingga seseorang membangunkanku.

“Jess.. Jessie”

“Aish, Tiff”

“Wae”

“Omo, Jess. Cepat kau harus putuskan siapa yang kau pilih menjadi Photographer kita yang baru”

“Ah iya, Hmmm… aku bingung” kataku sambil melihat gambar hasil karya photographer tadi. Sebenarnya aku berkali-kali melirik hasil karya Yul, bukan karena aku pernah menjalin hubungan dengannya tapi karena memang hasilnya yang sangat bagus. Tapi kemudian aku berpikir kembali jika aku memilih Yul, itu artinya akan lebih mendekatkan dirinya dengan Model-model cantik. Dan tidak tahu kenapa aku tidak suka Yul dengan wanita lain. ‘Aish, sadar sica. Yul sudah memilih dengan wanita lain yang telah dihamilinya. Kenapa juga aku harus risih melihat Yul dengan wanita lain’ kataku dalam hati.

“Kalau menurutku hasil karya Yul lebih bagus” kata Tiffany yang ternyata juga sependapat denganku

“Tapi kita tidak tahukan seberapa kemampuannya. Lagi pula photographer bukan pekerjaannya. Aku tidak mau ambil resiko”

“Yah, pekerjaannya memang bukan seorang photographer, tapi kau tidak bisa meragukan kemampuannya, dia sudah sangat sering menjadi juara dibidang photography. Dia hanya tidak memiliki kesempatan untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang photographer”

“Tapi, kau tahu ini bukan untuk project kecil. Tiff”

“Aku tahu itu.. Dan aku juga tahu bahwa kamu sebenarnya takut untuk bertemu dengannya lagi kan..?”

Kata-kata Tiffany membuatku tidak tahu harus berkata apa lagi, ya.. semua yang dikatakannya benar. Kenapa..? Kenapa aku harus ada diposisi seperti ini.

“Fine, suruh dia datang lagi besok untuk menandatangi kontrak. Puas.?” Kataku sambil berjalan keluar dari ruanganku.

Berkali-kali aku menarik nafas lalu menghembuskannya kembali..  Aku terus berjalan sampai seseorang memanggilku.

“Jessica” panggilnya dan akupun membalikkan tubuhku

“Yes, Tae.. Ada apa.?” Kataku.. Omo, kenapa kau harus datang Tae, padahal aku sedang ingin sendiri.

“Bagaimana jika kau menemaniku makan siang.?” Ajaknya, sebenarnya aku ingin sekali menolaknya tapi belum sempat aku berkata dia langsung menarikku ke sebuah restoran yang tidak jauh dari kantor kami.

Sesampainya kami direstoran tersebut, kami langsung duduk di satu-satunya meja yang sedang kosong. Aku duduk dan menemaninya makan dengan sedikit agak malas. Sedari tadi kami makan, aku tidak memperhatikan dia ataupun orang-orang disekitar kami.  Apapun yang dikatakan oleh Taeyeon aku hanya menjawabnya dengan kata ‘Ya’ sambil tersenyum.

Aku terus menundukkan kepalaku ketika saat makan, tapi tiba-tiba ada suatu suara yang sangat ku kenal yang mampu membuatku mengangkat kepalaku dan mencari sumber suara tersebut. Ternyata tepat dihadapan mejaku ada Yul yang duduk membelakangiku dan Victoria yang duduk menghadapku. Mereka berbincang dan tertawa seakan mereka sudah mengenal sejak lama.

‘Omo, kenapa aku harus melihat mereka lagi. Tuhan.. tolong singkirkan wanita itu dari hadapan Yul’ teriakku dalam hati.

*Yul POV

Setelah selesai melakukan pemotretan aku dan Victoria noona memutuskan untuk mampir kesebuah restoran. Kami banyak membagi kisah kami masing-masing sambil diselangi dengan canda tawa. Aku sudah menganggapnya sebagai noonaku sendiri, jadi aku tidak segan-segan untuk menceritakan masalah pribadiku termasuk permasalahanku yang sekarang sedang kuhadapi.

“Ya begitu noona, jadi sekarang ini aku tidak tinggal bersama orangtuaku lagi”

“Lucu sekali, kau diusir hanya karena menolak perjodohan” Dia sedikit tertawa, aku tidak memberitahunya bahwa aku berbohong saat memberikan alasan untuk menolak perjodohan itu kepada orangtuaku.

“Sudahlah, aku yakin kau akan baik-baik saja. Walau tanpa harta orang tuamu itu. Dan kau tahu, aku senang karena kau sudah berubah, kau sudah jauh lebih baik sekarang.” lanjutnya lalu ia tiba-tiba berdiri dari tempatny lalu berjalan dan duduk dipangkuanku sambil memeluk leherku.

“Ayo berfoto, kau tahu.. aku benar-benar merindukanmu Yul.” katanya lalu mengarahkan kamera handphone nya pada kami.

*Jessica POV

Aku benar-benar sudah tidak bisa tahan lagi. Aku tidak bisa melihat mereka bermesraan seperti ini. Tanpa pikir panjang lagi, aku menghampiri meja mereka lalu memisahkan Victoria yang sedang duduk dipangkuan Yul, lalu menampar pipi Yul.

“Aww..” Rintih Yul, sambil memegang pipi kanannya “Sica.. Apa yang kau lakukan?” Tanyanya

“Hah… Aku.? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu. Apa yang kau lakukan dengan wanita ini disini, sedangkan kekasihmu yang sedang hamil itu sendirian dirumahnya. Huh, pria macam apa kau.?” Aku sengaja berkata seperti itu karena aku tidak punya alasan untuk memisahkan mereka berdua hanya karena aku tidak suka mereka bermesraan. Tidak hanya itu aku juga terus memukul bahu Yul hingga Taeyeon harus menghentikan perbuatanku.

“Mwo, kau menghamili wanita diluar nikah Yul.?” Victoria nampaknya terkejut, Ya sudah seharusnya dia tahu kelakuan Yul yang sebenarnya pikirku.

“Aku pikir kau benar-benar telah berubah” katanya lagi lalu menampar pipi sebelah kirinya. Entah mengapa kali ini aku tidak rela Yul ditampar oleh nya.

“Aku…? Tidak aku..” belum sempat Yul berkata, ponsel Victoria berbunyi dia pun mengangkat telponnya sebentar lalu kembali kepada Yul

“Dengar Yul, kau harus jelaskan ini semua padaku nanti. Aku harus pergi dulu” Katanya lalu pergi meninggalkan kami dalam keheningan.

“Puas kau sudah membuat Victoria salah paham huh.?” Kata Yul

“Tapi kau memang tidak bisa berselingkuh dengan wanita lain sementara kekasihmu sedang mengandung anakmu.?”

“Maksudmu, Oh aku mengerti. Dengar sica, aku tidak benar-benar menghamili seseorang, itu hanya alasanku saja agar orangtua kita menghentikan perjodohan ini” Elaknya

“Ya, awalnya juga aku sempat berpikir seperti itu. Tapi kemarin aku melihat sendiri, kau sedang dengan kekasihmu itu yang sedang hamil di sebuah Mall. Jelas sekali itu kau Kwon Yul..”

“Mwo..? Tunggu, kemarin di Mall..? Aish, sica maksudmu Sunny..? Dia adalah istri dari sahabatku Sooyoung, dia memang sedang hamil. Dan karena sooyoung sedang sibuk makanya dia memintaku untuk menjemput istrinya yang kelelahan karena belanja seharian”

Jelasnya panjang lebar dan kini aku benar-benar malu akan perbuatanku tadi, tapi juga senang karena ternyata dia tidak pernah menghamili siapapun. Tapi disamping itu aku juga merasa sedih dan iba padanya, ternyata dia begitu rela mengorbankan dirinya sendiri sampai diusir dari rumahnya hanya agar hubungan kami berakhir. Hanya untuk membebaskanku dari perjodohan ini.

“Mi.. mian Yul, aku… aku sudah salah padamu” kataku sambil menundukkan kepalaku

“Sudahlah, tidak apa. Yang terpenting sekarang, aku harus segera menjelaskan kesalahpahaman ini pada Vic” katanya tersenyum padaku

‘Lalu, apa hubunganmu dengan Victoria sekarang Yul.? Apa sekarang kau sudah kembali menjadi Yul yang dahulu, yang dengan mudah bisa menjalin hubungan dengan semua wanita yang kau mau.? Apa semudah itu Yul kau melupakanku’ kataku dalam hati sambil menatap kepergiannya.

TBC

Yey, update…

Ditunggu koment nya ya… ^_^

 

‘Between’ Chapter 7

*Taeyeon POV

Rasa perih diwajahku belum seberapa jika dibandingkan dengan Jessica yang lebih memilih mengejar Pria itu daripada aku yang sedang terluka seperti ini.

Apa dia sudah tidak peduli lagi padaku, apa dia sudah berubah.?

 “Mr. Kim, kita sudah sampai. Ayo cepat kita turun” Tiffany membawaku ke rumah sakit sesuai perintah Jessica.

“Yah, Mr. Kim.. Ayo cepat kau turun dari mobil” katanya sekali lagi karena aku masih tidak beranjak dan terdiam

“Kau antarkan aku ke Rumah saja Tiff”

“Ta..Tapi Mr. Kim, lukamu harus diobati”

“Baiklah kalau kau tidak mau mengantarkanku, aku akan mencari taksi saja” Kataku sambil membuka pintu mobilnya

“Tunggu, aku akan mengantarkanmu pulang” Aku menutup kembali pintu mobilnya dan iapun segera menyalakan mesin mobilnya kembali

 

Setibanya di rumah, tanpa ku suruh Tiffany terus mengikutiku masuk ke dalam sambil melihat kagum apa yang dia lihat.

“Kau tinggal sendiri dirumah sebesar ini..?” tanyanya sambil melihat-lihat isi rumahku

“Orang tuaku sedang ke eropa”

“Owh… Oh iya, dimana alat P3 nya..? Biar lukamu ku obati”

“Tidak usah, kau kembali saja ke kantor” tolakku

“Yah, katakan dimana.??”

“Disana” Tunjukku dan dia menuju tempat yang kutunjuk

Begitu mendapatkan peralatan yang ia cari, lalu ia mendekat padaku. Dan mulai mengompres lukaku dengan alkohol. Tangannya begitu lembut menyentuh wajahku, terlihat dari matanya yang begitu menyimpan kepedulian, aku berfikir kenapa bukan Jessica yang ada disini.

“Aw, perih… Tak bisa kah kau sedikit lembut.?” keluhku

“Tahan sedikit, kau ini laki-laki atau bukan.? Begini saja sudah banyak mengeluh” Kesalnya lalu dengan kasar menarus kapas yang telah dibasahi alkohol ke luka dekat bibirku.

”Yah, sudah-sudah hentikan.!! Aku obati sendiri saja” kataku sambil menyingkirkan tangannya

”Aish.. Kau tidak bisa diam sekali. Kalau begini caranya kapan aku selesai mengobatimu” Nadanya terdengar agak tinggi dan tatapannya terasa seperti dia sangat kesal padaku. Akupun terdiam seketika itu, lalu ia melanjutkan membersihkan lukaku. Sementara dia mengobatiku dengan intens, aku terus menatap wajahnya yang terlihat sangat serius, cantik pikirku tiba-tiba.

“Oke, selesai” katanya begitu selesai menempel plester terakhir diwajahku

“Terima kasih Tiff”

“Ya” Lagi lagi dia memberikanku eye smilenya, indah sekali batinku

Kriuk kriuk kriuk suara perutku berbunyi membuat ia berhenti tersenyum dan kini giliran aku yang tersenyum karena malu

“Kau lapar Mr. Kim..??” tanyanya dengan ragu-ragu dan aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman

“Aku akan ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ku masak”

“Kau bisa memasak.?” Tanyaku

“Jangan meragukanku, kau duduk saja disana. Beri aku 30 menit dan aku akan menyediakan makanan untukmu”

“Baiklah”

 

Sesuai waktu yang ia janjikan, ia menyajikanku beberapa makanan yang terlihat sangat lezat sekali dan membuat selera makanku meningkat, dengan lahap ku habiskan makanan yang ia buat.

“Kau terlihat seperti kelaparan sekali Mr. Kim”

“Karena dari tadi pagi aku belum makan apapun. Dan karena lelaki itu juga membuatku sangat lapar”

“Yul.. Namanya Kwon Yul”

“Aku tahu, hanya saja aku tidak suka menyembut namanya”

“Kenapa..?” tanyanya dengan serius aku tidak bisa mengatakan bahwa aku membencinya karena ia dekat dengan Jessica

“Tentu saja karena dia telah memukuliku”

“Tapi aku rasa dia tidak akan memukulimu tanpa sebab” Aku terdiam tak menjawab pertanyaannya

“Apa kau menyukai Jessica.?”

Aku mengangguk menjawab pertanyaannya

“Pabo, tentu saja dia memukulimu. Kwon Yul itu kekasih Jessica dan yang ku dengar mereka sudah membicarakan tentang pernikahan. Pria mana yang tidak akan memukuli orang yang diam-diam menyukai kekasihnya” Jelasnya panjang lebar

“Tapi Jessica tidak pernah mencintai lelaki itu” kataku dengan nada yang sedikit meninggi, aku agak terpancing dengan perkataannya yang sebelumnya.

“Tapi itu tidak bisa menjadi alasanmu untuk mendekati kekasih orang” Balasnya dengan cepat, tiba-tiba dia menyadari sesuatu yang salah dengan perkataanku sebelumnya “Tunggu, dari mana kau tahu Jessica tidak mencintai Kwon Yul.? Setahuku Jessica tidak akan sembarangan menceritakan masalahnya pada orang lain.?”

Aku benar-benar terjebak oleh pertanyaannya “Aku.. Aku tahu, karena hanya aku yang dia cintai” Dia masih menatapku dengan tatapan bingung “Aku.. Aku mantan kekasihnya Jessica”

“Oh… Jadi Kau..! Orang yang telah membuat Jessica terluka dan sekarang kau kembali disaat dia sedang berusaha untuk Move on..?”Tanya nya dengan nada marah

“Aku.. aku sangat menyesal dan aku ingin memperbaiki kesalahanku”

“Dengan merusak kebahagiaannya yang sekarang ini..?”

Aku terdiam tak mengerti dengan pertanyaannya, setahuku Jessica hanya bahagia denganku

“Aku pikir Jessica hanya bahagia denganku”

“Kau egois Mr. Kim. Kau bilang kau ingin memperbaiki kesalahanmu tapi kau lihat sekarang kau malah membuatnya terluka untuk kedua kalinya”

“Jadi aku harus bagaimana..?” Tanyaku

“Tinggalkan dia, biarkan dia bahagia” katanya dengan lembut

”Tidak, aku tidak bisa. Aku Mencintainya”

”Tapi kau tetap harus membiarkan Jessica menentukan Pilihannya sendiri”

”Ya aku mengerti, aku akan memperjuangkan cintaku pada Jessica dan kau, kau harus membantuku” pintaku pada Tiffany, seketika itu dia langsung terkejut.

”Mwo.. kenapa aku..? Aku tidak mau ikut campur cinta segitiga kalian” elaknya

”Kau adalah sahabat Jessica bukan.? Dan kau pasti mau sahabatmu mendapatkan pasangan yang tepat, yang mencintainya dengan sepenuh hatinya bukan.? Dan kau tahu orang itu adalah Aku, jadi kau harus membantuku” Jelasku panjang lebar

”Aku baru tahu kau begitu percaya diri sekali Mr. Kim”

”Jadi kau mau kan membantuku..?” tanyaku sekali lagi

”Tidak.. Aku tidak mau” tolaknya sambil pergi dariku

”Kau harus mau” Aku menarik tangannya

”Tidak, kenapa aku harus mengikuti kata-katamu” katanya dengan tegas

”Karena.. Karena tadi kau sudah dengan sengaja mengobati lukaku dengan kasar. Dan aku menuntun ganti rugi sekarang.”

”Aish, alasan macam apa itu.? Aku sudah mengobatimu dan kau malah memintaku untuk ganti rugi.? Dimana sopan santunmu Mr. Kim.?”

Arggh, dia benar juga kenapa aku mengatakan alasan yang seperti itu.

”Baiklah, sekarang kau mau membantuku atau kau mau ku pecat.?”

”Bos macam apa kau, selalu menggunakan kekuasaanmu untuk memaksakan kehendakmu”

 

Tiba-tiba suara bel rumahku berbunyi Ting tong ting tong

Aku meninggalkan Tiffany yang masih kesal di ruang tamu sedangkan aku pergi kedepan untuk membuka pintu, tanpa kuduga Jessica hadir dihadapanku.

“Jess..” kataku tak percaya sedangkan dia hanya tersenyum tapi terlihat seperti dipaksakan, lalu aku menyuruhnya masuk ke dalam.

Dia mengikutiku masuk ke ruang tamu tepat dimana tiffany berada, aku memang sangat ingin Jessica menjengukku, tapi dengan melihat wajahnya yang murung dan terlihat sedih aku jadi tidak tega melihatnya.

“Hm, bagaimana lukamu Tae.?” Tanya Jessica sambil duduk disamping Tiffany

“Sudah diobati oleh Tiffany dan sudah terasa lebih baik”

“Kau tidak pergi ke rumah sakit.?”

“Dia menolaknya Jess” Tiffany menjawab dan Jessicapun hanya tersenyum tapi bukan senyum yang biasanya kulihat, lagi-lagi kali ini terlihat seperti agak terpaksa.

“Aku minta maaf Tae, ini salah paham. Seharusnya Yul tidak melakukan ini padamu. Sekali lagi aku minta maaf atas tindakannya”

Akuk terdiam bukan karena aku tidak mau memaafkan Kwon Yul atas kejadian tadi pagi tapi karena aku tidak sanggup melihat keadaan Jessica saat ini, keadaan yang sama saat dulu aku menyakitinya. Dia terlihat rapuh dan aku benci melihatnya seperti itu.

“Lalu bagaimana dengan Yuri..? Apa dia baik-baik saja.?” Tanya Tiffany

Jessica tidak menjawabnya pertanyaannya Tiffany dia hanya tersenyum tapi setelah itu matanya memerah lalu meneteskan air mata, dia segera menghapusnya dan tersenyum kembali

“Aku yakin dia baik-baik saja” katanya dengan tegar kali ini dan Tiffany langsung memeluknya

“Oh iya Tiff, terima kasih sudah merawat Taeyeon.. Kau tahu kenapa dia menolak ke rumah sakit..?” tanya Jessica, Tiffany menatap Jessica dan menggelengkan kepalanya

“Dia takut jarum suntik..” Tiffany tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Jessica sedangkan Jessica terlihat berusaha untuk ikut tersenyum dan Aku hanya bisa menunduk malu akan pernyataan itu.

“Hahaha.. Kau takut jarum suntik..? Hahahaha, aku tidak percaya..” tawa Tiffany benar-benar tidak terhentikan, aku yang kesal melihatnya menertawaiku langsung mendekatinya dan menutup mulutnya dengan tanganku.

”Lee.. passs…kaannn.. tangan.. mu” katanya dengan tidak jelas tapi aku tetap tidak melepaskan tanganku, sampai terasa nyeri ditanganku karena gigitannya

”Aww.. aw…” Aku melepas tanganku dari mulutnya karena dia menggigit tanganku dengan keras

”Sudah kubilang lepaskan tanganku, tapi kau tidak mau dengar. Jadi itu balasannya” katanya dengan kesal

”Hahaha.. kalian berdua lucu sekali.. dan sepertinya kalian sudah sangat akrab” Kata Jessica, sementara aku dan Tiffany saling pandang mendengar perkataanya.

”Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu ya.. Aku tidak mau mengganggu kalian berdua” Kata Jessica dengan nada menggoda sambil berjalan meninggalkan kami berdua. Aku melihat kepergian Jessica yang semakin menjauh.

”Yah, Jessica pergi. Dan ini semua salahmu” kataku menunjuk Tiffany

”Aku..?? Apa yang aku perbuat?”

”Aku tidak mau tahu, kau harus bertanggung jawab. kau harus menemaniku mencari kado natal untuk Jessica. Mengerti.?”

”Ap.. Apa..??”

 

*Jessica POV

 

Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Sejak kejadian tadi pagi sepertinya sudah tidak ada lagi semangat untuk kembali bekerja, Hmm. Mungkin sepertinya aku harus menenangkan diri dulu, jadi setelah menjenguk Taeyeon aku putuskan untuk kembali ke Appartmentku saja. Mungkin lebih baik aku tidur untuk melupakan kejadian hari ini.

 

Begitu tiba di Appartementku, aku langsung merebahkan tubuhku ditempat tidur lalu tenggelam dalam mimpiku. Aku tidak peduli akan pakaianku yang belum diganti atau perutku yang terus berbunyi karena dari tadi pagi belum makan apapun.

 

Setelah puas 6 Jam tidur siang hari ini sampai pukul 8 malam aku bangun dan membuka ponselku, aku buka satu persatu pesan untukku tapi aku begitu kecewa begitu mengetahui tidak ada pesan dari Yul padahal biasanya dia selalu menggangguku dengan pesan-pesannya atau panggilan telpon darinya.

Apa yang sedang dia lakukan ya..? tiba-tiba aku memikirkan Kwon Yul.

 

 

*Taeyeon POV

 

Sesuai kesepakatan tadi siang, jadi malam ini aku meminta Tiffany menemaniku mencari kado spesial untuk Jessica. Aku melajukan mobilku menuju Mall dengan Tiffany disampingku.

 

Setibanya di Mall aku langsung menuju toko perhiasan untuk mencari hadiah untuk Jessica

”Bagaimana cincin ini menurutmu.?” Tanyaku pada Tiffany

”Kau mau memberinya cincin..?” aku mengganguk menjawabnya

”Terlalu cepat kalau kau memberinya cincin, dia akan menolaknya”

”Tapi aku yakin dia menyukainya, cincin ini indah dan mewah bukan..?”

”Ikut aku ke Toko itu” ajaknya kesebuah toko yang serba berwarna pink itu

Dia memegang sebuah miniatur flute berwarna keemasan lalu memandangnya cukup lama

”Jessica tidak suka flut”

”Iya, aku tahu.. Maksudku kau bisa cari barang-barang yang unik disini” Katanya lalu menaruh miniatur flut tersebut lalu mengambil kotak musik

”Kotak musik sudah terlalu biasa” kataku

”Tapi ini klasik dan alunan musiknya juga menenangkan” Tiffany menyerahkan kotak musik itu lalu berjalan menuju miniatur flut yang ia lihat tadi.

Sementara aku akhirnya membeli kotak musik yang ia sarankan tadi dan menuju ke kasih, begitu selesai aku menghampirinya lagi untuk mengajaknya pergi.

”Ayo kita pergi, aku sudah mendapatkan hadiahnya” Ajakku pergi saat dia masih terus menatap miniatur flut

 ”Oh iya.. Ayo..”

Dia berjalan agak pelan dan lebih pendiam, tidak seperti biasanya yang selalu ceria dan cerewet. Apa ada yang salah dengannya.? Pikirku

”Kulihat kau dari tadi melihat flut itu terus, seperti kau bisa memainkannya saja” kataku memulai pembicaraan

”Ya, aku memang bisa tapi dulu” katanya pelan tapi tetap bisa kudengar

”Oh ya.? Kalau begitu kau harus memainkannya suatu hari nanti padaku”

”Aku bilang, aku bisa memainkannya dulu. Sekarang aku tidak tahu apa aku bisa memainkannya lagi” Kali ini dia menundukkan kepalanya

”Kenapa..?”

”Bukan urusanmu, sudahlah.. Aku sudah selesai menemanimu membeli kado untuk Jessica, jadi aku sudah boleh pulangkan.?” Dia mulai berjalan agak cepat lalu mendahuluiku

”Tunggu, temani aku makan malam dulu” Aku segera menarik tangannya dan iapun berhenti lalu menatapku bingung

”Tidak, Itu tidak termasuk pada perjanjian kita Mr. Kim” Tolaknya

”Bukankah kau tahu, dirumah aku sendirian.. dan aku tidak bisa memasak, apa kau tega melihatku mati kelaparan.?”

”Kalau begitu kau makan saja sekarang. Di Mall ini banyak restoran yang cukup enak bukan.?”

”Kau temani aku ya.? Aku tidak bisa makan sendirian”

”Makan saja harus ditemani.? Kau seperti anak kecil saja Mr. Kim”

”Ayolah… seorang teman itu harus mau menemani temannya makan”

”Tunggu… sejak kapan kita berteman.? Aku hanya menganggapmu sebagai bosku”

”Mulai sekarang kita adalah teman dan kita akan merayakan hari pertemanan kita hari ini, jadi kau tidak bisa menolak ajakanku makan lagi. Mengerti..?”

Aku tidak membiarkannya berkata apapun lagi, aku menarik tangannya menuju restoran jepang.

 

****************

Saatnya Hari Natal

 

*Jessica POV

 

Tuk tuk tuk..

Suara pintu kamarku yang diketuk dengan gaduhnya, membuatku mau tidak mau terbangun dengan malasnya.

”Unnie… Ayo cepat bangun” Kristal memanggilku

Karena hari ini Natal, kedua orang tua dan adikku kembali ke Korea maka dari itu aku juga harus ikut tinggal beberapa hari dirumah dengan mereka.

”Apa.?” tanyaku pada kristal yang sudah berada didepan pintu kamarku

”Appa dan Umma sudah menunggu untuk sarapan”

”Ya, sebentar lagi aku turun”

 

Aku segera menuju ke kamar mandi, untuk cuci muka dan menyikat gigiku. Setelah itu aku segera menuju ke ruang makan.

 

”Pagi Appa, pagi Umma” Sapaku lalu mencium keduanya

”Apa kau masih saja bangun se siang ini.?” tanya ummaku

”Ini karena hari libur, biasanya juga aku bangun pagi” kataku lalu menggigit sandwich yang sudah disiapkan untukku

”Jessica, nanti malam kita akan ada pertemuan dengan keluarga Kwon. Kita akan membahas mengenai rencana pernikahan kalian” Appaku angkat bicara dan aku tidak bisa mengatakan apapun, aku begitu takut menghadapi pertemuan nanti malam. Rasanya aku tidak sanggup bertemu dengan Yul.

 

****************

 

Waktu yang kutakutkan akhirnya datang juga, aku dan orang tuaku datang ke Kwon Hotel untuk bertemu dengan keluarga sahabat Appaku.

Kami semua makan malam ditempat yang sudah disiapkan sebelumnya, tempat yang begitu eksklusif dan mewah. Dan yang membuatku sangat gugup adalah Kwon Yul yang berada di tepat berada dihadapanku, aku sangat takut apabila dia benar-benar mengatakan hal yang pernah dia katakan padaku di sungai han beberapa hari yang lalu. Entah mengapa aku tidak mau dia mengatakan hal itu.

”Appa, Umma.. Paman Jung dan Bibi Jung, ada yang harus kami katakan mengenai hubungan kami” Kwon Yul mulai angkat bicara dan melirikku.

”Kami mengadakan pertemuan ini juga untuk membahas kelanjutan hubungan kalian, Kami sudah memutuskan untuk mempercepat rencana pernikahan kalian” Jawab Mr. Kwon

”Tapi Appa, sebelumnya kami juga sudah memutuskan suatu hal. Mohon untuk mendengarnya dahulu” Yul berkata

”Katakan apa yang ingin kalian bicarakan..?” Appaku memberi kesempatan Yul untuk bicara

”Aku dan Jessica sudah memutuskan untuk… untuk tidak melanjutkan hubungan kita lagi” Jelas Yul dengan yakin

”Kalian pasti sedang bercanda, sudah hentikan lelucon ini. Lebih baik kita bicara tanggal pernikahan kalian saja” Appaku menjawab

”Tidak Appa, ini sungguhan. Hubungan aku dengan Jessica sudah berakhir” Yul terus berjuang agar kedua orang tua kami mengerti

”Apa yang telah kau lakukan Kwon Yul.? Apa kau masih belum berubah.? Apa kau mengkhianati Jessica, hah..?” Tanya Mr. Kwon dengan kesal

”Appa aku… aku..” Yul tampak kesulitan untuk mengatakan alasan mengapa hubungan kami berakhir

“Hmmm.. Sebenarnya, kami memutuskan hubungan ini karena kami menyadari bahwa kami berdua tidak saling cinta” Aku mencoba membantu Yul bicara

“Bukankah hal ini sudah pernah kita bahas, kalian hanya butuh waktu untuk saling mencintai” Appa menjawab

“Tapi Appa, itu tidak semudah yang..”

“Sebenarnya ini semua karena aku sudah menghamili wanita lain Appa” Yul memotong pembicaraanku dan itu membuat seisi ruangan terdiam termasuk aku yang tidak percaya dengan apa yang telah ia katakan.

“Apa kau bilang..?” teriak Mr. Kwon

“Ya Appa, aku tahu aku salah. Maka dari itu, aku mau menghentikan hubunganku dengan Jessica”

“Kau tahu, aku malu, sangat malu memiliki anak sepertimu” Mr. Kwon menampar Yul dengan kerasnya, tidak hanya itu lalu iapun terus-menerus memukul Yul hingga Mrs. Kwon menghentikan perbuatannya.

“Dengar Kwon Yuri, aku sangat malu padamu. Kau memang tidak pantas untuk Jessica, dengar mulai hari ini kau tidak usah mengurus Hotel lagi, aku tidak malu memiliki anak sepertimu, kau lebih baik angkat kaki dari rumah dan aku tidak akan menganggapmu lagi sebagai anakku. Mengerti”

“Sudahlah, kau terlalu berlebihan” Mrs. Kwon mencoba menenangkan Mr. Kwon

“Ini sudah menjadi keputusanku. Aku tidak mau lagi melihat wajahnya dihadapanku”

“Maafkan aku Appa, Umma” Yul memeluk Mrs. Kwon tapi kemudian langsung dilepas secara paksa oleh Mr. Kwon

“Pergi kau dari hadapanku” Mr. Kwon mengusir Yul dengan kasar.

 

Aku masih tidak percaya, apa Yul benar-benar melakukan hal itu, dia menghamili wanita lain.? Atau ini hanya alasannya saja agar bisa menghentikan perjodohanku dengannya, kalau ini memang benar, aku akan sangat bersalah padanya. Tapi bukankah sebelumnya dia seorang player jadi bisa saja hal itu terjadi, tapi terakhir kali dia bilang padaku dia sudah berhenti memainkan wanita sejak ia bertemu denganku.. Akh Kwon Yul, kau membuatku sangat bingung.

 

TBC

23rd Annual Independent Critics List of the 100 Most Beautiful Faces 2012

Yoona di posisi 50, Taeyeon 42 dan Jessica di posisi 5…. Congrats buat Yoona dan Taeyeon dan salut buat jessica tahun lalu kalau gak salah di posisi 45 dan sekarang langsung naik ke posisi 5..